Skip to content
KISAH BUMI
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Kisah Bumi Kisah Bumi

Halo

Kisah Bumi Kisah Bumi

Halo

  • Tahukah Kamu
  • Sains
  • Astronomi
  • Unik & Aneh
  • Misteri
  • Tips & Trik
  • Arkeologi
  • Inspirasi
  • Wisata
  • Tahukah Kamu
  • Sains
  • Astronomi
  • Unik & Aneh
  • Misteri
  • Tips & Trik
  • Arkeologi
  • Inspirasi
  • Wisata
Close

Search

Tahukah Kamu

Ternyata, Pembalut Awalnya Diciptakan untuk Para Pria

2 Min Read
0

Dalam sejarah, pada awal abad ke-4 di Yunani Kuno, pembalut pra-modern telah digunakan. Saat itu, perempuan menggunakan kain untuk menampung darah kewanitaannya. Selain kain, mereka juga menggunakan kapas atau wol domba dalam pakaian mereka untuk membendung aliran darah menstruasi.

Sebaliknya di China, para perempuan menggunakan kain yang diisi pasir sebagai pembalut menstruasi. Ketika kain itu cukup basah, mereka akan membuang pasir dan mencuci kainnya.

Di masa Mesir Kuno, para perempuan menggunakan papirus sebagai alas haid mereka. Sebelum digunakan, papirus direndam dalam air terlebih dahulu.

Pembalut sekali pakai, pertama kali, dipikirkan oleh para perawat selama masa perang. Tujuannya sama sekali bukan untuk menstruasi perempuan, melainkan untuk para pria. Tepatnya, untuk menghentikan pendarahan bagi para prajurit yang bertempur.

Sekitar abad ke-19, pembalut sekali pakai pertama kali dibuat oleh perawat Perancis dari perban bubur kayu. Ya, saat itu pembalut tidak dibuat dari kapas karena ketersediaannya yang sangat terbatas.

Para perawat membuat pembalut dari sphagnum moss, tanaman yang sangat mudah menyerap dengan sifat antimikroba. Perusahaan besar mulai memproduksinya secara massal dengan nama Cellucotton. Pada akhir perang pada tahun 1918, produsen Cellucotton mulai kebingungan karena surplus pembalut.

Sampai pada akhirnya, para prajurit dan palang merah tidak lagi membutuhkan mereka. Perban-perban ini cukup murah untuk digunakan sekali pakai lalu dibuang sehingga para perawat mulai menggunakannya untuk menstruasi mereka.

Terinspirasi dari para perawat, perusahaan ini kemudian mengembangkan produk konsumen komersial yang layak untuk perempuan di mana saja. Mereka kemudian berganti nama menjadi pambalut Kotex pada 1920.

Pada masa itu, sebagian besar perempuan menggunakan kain flanel untuk mengatasi menstruasi mereka. Sayangnya, kain flanel memiliki harga cukup mahal untuk dijangkau semua kalangan.

Beberapa perempuan lain menggunakan sabuk mesnstruasi, yaitu pita perekat yang ditempatkan di bagian bawah bantalan untuk menempel pada pelana celana. Namun, sabuk menstruasi ini cukup menyulitkan dipakai. Hal tersebut membuat pembalut menstruasi dengan cepat mendapatkan popularitas.

Setelah berpuluh tahun tidak tergantikan, pada abad ke-21, muncul tampon dan cangkir menstruasi. Cara ini sering dianggap lebih baik dibanding pembalut sekali pakai yang kerap menggunakan pemutih.

Selain itu, pembalut sekali pakai juga dianggap kurang ramah lingkungan. Beberapa perempuan memilih menggunakan cangkir menstruasi atau menstruation pad yang bisa dicuci kembali.

Sumber: kompas

Other Articles
Previous

Manjanggul Lava Tube, Lorong Lava Terbesar dan Termegah di Dunia

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Post

  • Ternyata, Pembalut Awalnya Diciptakan untuk Para Pria
  • Manjanggul Lava Tube, Lorong Lava Terbesar dan Termegah di Dunia
  • Dar al-Hajar: Istana Ini Berdiri di Atas Sebuah Batu Besar
  • Siapa yang Memadamkan Lampunya?
  • 5 Pesawat yang Mendarat Darurat Karena Hal Konyol
  • Semua Orang itu Jenius Termasuk Anda
  • Ular Raksasa Penyelamat Korban Tsunami Aceh
  • Adam Turun di India, Manusia Pertama Tundukkan Seluruh Hewan?
  • Temukan Yang Berbeda Saat Mendaki Lawu Lewat Jalur Candi Cetho
  • Penjelasan Ilmiah Mengapa Makan Serangga Bisa Cegah Pemanasan Global

There was an error trying to submit your form. Please try again.

This field is required.

There was an error trying to submit your form. Please try again.

Tech News

  • Technology
  • Gadget
  • Software
  • Games

Legal

  • Privacy Policy
  • Terms of Service
  • Extra Crunch Terms
  • Code of Conduct
Copyright 2026 — Kisah Bumi. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme